| BANGSA (,) SAYA BINGUNG !

Sekeping Langkah - Article, Tulisan
ini saya buat di tengah malam yang sunyi dan dingin. Seolah malam lah
yang mampu memendam berbagai hiruk-pikuk dan carut-marut negeri ini.
Namun, di kesunyian malam ini pula lah ada yang bergemuruh di dada
ini. Gemuruh yang bisa membangkitkan semangat ketika memikirkan
bangsa yang menurut beberapa pakar akan segera collapse. Akhirnya
dengan di temani sebuah lagu yang berjudul mumang (pusing) dari
sebuah grup musik Kande asal Aceh tulisan ini diselesaikan.

Sebelumnya,
mohon maaf untuk semua, tulisan ini bukan berasal dari seseorang yang
mempunyai gelar kepanjangan seperti yang biasa menulis di media
terkemuka ini. Tulisan ini juga bukan dari pakar, pemimpin lembaga
pengkajian ini-itu, birokrat, akademisi, menteri atau mantan menteri,
bahkan bukan pula berasal dari mantan presiden seperti Gus Dur yang
kerap  tulisannya menghiasi media massa.

Tulisan
ini berasal dari seorang masyarakat yang sering bimbang melihat
jalannya bangsa ini. Jadi, wajar saja jika sedikit sekali akan
ditemui bahasa-bahasa ilmiah seperti yang sering digunakan
orang-orang tenar dalam berbicara dan menulis. Saya sejujurnya ragu
apa mereka mengerti apa yang mereka lafadzkan itu, yang nantinya
mereka akan di mintai pertanggung jawabannya terhadap apa yang mereka
ucapkan.

***

Saya
benar-benar bingung kini, kebingungan saya ini berawal ketika saya
membaca koran, menonton televisi, mendengar radio, mengikuti milis di
internet. Begitu banyak kegundahan yang dialami bangsa ini yang
ditampilkan oleh media-media publik itu. Dari presiden yang masih
bingung dalam memimpin bangsa ini, sampai masyarakat yang kesulitan
mengisi hidupnya dengan sesuap nasi.

Ada
ekonom yang dengan hitungan matematis nya mendukung kenaikan BBM yang
dilakukan pemerintah. Di lain pihak, ada juga ekonom yang tetap
menolak kenaikan BBM ini dengan mengatakan bahwa kenaikan ini sungguh
memberatkan kehidupan rakyat. Seolah-olah mereka ingin menunjukkan
idealismenya dalam keberpihakan kepada rakyat. Hasilnya, rakyat pun
bingung mana yang harus menjadi pegangan.

Bingungnya
rakyat ini juga mungkin yang menimbulkan busung lapar dimana-mana.
Busung lapar pun ternyata tidak hanya di “nikmati” oleh anak-anak
kekurangan gizi yang telah ditemukan di hampir seluruh pelosok
negeri. Anggota dewan kita di parlemen juga mengalaminya, makanya
jangan heran jika mereka tetap ngotot minta kenaikan tunjangan 69-104
persen. Kenapa sampai setinggi itu mintanya? wajar saja lah, mereka
kan mau mengobati busung lapar nya di luar negeri. Istilah mereka sih
studi banding, namun, semua juga paham sudah berkali-kali studi
banding tapi perubahan kok tidak kelihatan di negeri ini.
Jangan-jangan standar kita dengan luar negeri memang sama. Cuma,
kalau sama buat apa juga studi banding?

Di
kalangan anak muda juga sebenarnya mereka sedang bingung. Selama ini,
mereka diharapkan memiliki nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme
yang tinggi terhadap bangsa dan Negara. Namun, nasionalisme dan
patriotisme seperti apa yang mereka harus junjung. Apakah
nasionalisme dengan menjual aset-aset bangsa? Atau patriotisme semu
yang biasa diperagakan oleh aparat dalam menumpas PKL, menggusur
rumah rakyat, membasmi separatis namun anak bangsa yang menjadi
tumbal.

Mereka
pun bertanya-tanya, apakah mengikuti titah perintah Paman Sam dengan
berbagai tangan kanannya semisal IMF, World Bank, Kampanye Terorisme
juga nasionalisme dan patriotisme? Benar-benar bangsa ini bingung
dalam menentukan identitas nya sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan
berdaulat.

Anak
sekolah juga sedang pusing tujuh keliling. Mereka pusing melihat
orang tua mereka yang susah payah memasukkan mereka ke sekolah dan
universitas dengan harga selangit. Sebenarnya mereka ingin tidak usah
sekolah dan kuliah saja jika melihat jerih payah orang tua seperti
itu. Bukankah, sekarang telah banyak kontes-kontes yang bisa membawa
seseorang tenar dan kaya mendadak.

Sayangnya,
orang tua mereka masih berpegang teguh pada prinsip bahwa gelar itu
mencerminkan kepintaran dan kelas sosial dan hal itu hanya bisa
didapat melalui jalur sekolah dan perguruan tinggi. Mungkin para
orang tua tidak tahu bagaimana kegelisahan wapres akan calon bupati
dan wakil bupati yang titelnya mentereng namun tidak tahu berasal
dari mana.

Ulama-ulama
di MUI pun sekarang lagi bingung. Kebingungan mereka terkait kasus
pengrusakan dan kekerasan yang dilakukan terhadap Jamaah Ahmadiyah.
MUI bingung bagaimana mereka bersikap terhadap fatwa sesat yang telah
mereka keluarkan sedangkan di lain pihak golongan yang mengusung
nilai-nilai pluralisme dan HAM menentang dengan keras aksi
pengrusakan tersebut dan menuntu pencabutan fatwa tersebut.

Sebagian
masyarakat sekarang hanya menyimpan kebingungan nya secara pribadi.
Hal ini wajar saja karena mereka seolah tidak bisa percaya lagi pada
semua orang. Percaya pada diri sendiri saja mungkin tidak, bagaimana
mempercayai orang lain. Sehingga suatu hal yang wajar saja ketika
kebingungannya pribadi itu menimbulkan tindakan-tindakan nekat
seperti bunuh diri. Toh pemerintah tidak ambil pusing terhadap
kematian warganya semisalnya tenggelamnya KM Digoel beberapa waktu
yang lalu.

Ternyata,
bukan hanya rakyat yang menyimpan kebingungannya. Pemerintah pun
sedang bingung sekarang. Pemerintah melalui delegasinya ke Helsinki
telah memberi janji kepada GAM untuk dapat mendirikan partai politik
lokal di Aceh. Namun, janji yang terlanjur diberikan kepada GAM itu
mendapat rintangan di dalam negeri. Karena banyaknya yang kontra
terhadap langkah tersebut.

Untuk
menjaga komitmen nya dan tidak kehilangan muka di hadapan GAM,
akhirnya pemerintah pun mengadakan pertemuan tertutup dengan
fraksi-fraksi di DPR. Kalau di cermati, pertemuan ini mengindikasikan
pemerintah sedang membangun jaringan komunikasi terhadap lembaga
legislatif, sehingga nantinya ketika dibutuhkan pengambilan keputusan
semisal amandeman UU untuk memungkinkan pendirian partai lokal di
Aceh, pemerintah akan mudah mendapat dukungan dari fraksi-fraksi di
DPR. Pintar juga pemerintah membagi kebingungannya.

Kebingungan
saya pun tidak sampai disini, masih cukup banyak kebingungan yang di
akibatkan peliknya permasalahan bangsa yang terus menerpa kita.
Rakyat pun juga saya rasa sama. Semoga saja kebingungan ini menjadi
suatu bahan renungan untuk mendewasakan kita dalam mengambil langkah
nyata untuk nusantara ke depan. Ingat, Nusantara ini milik cucu kita,
kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi !

[Tulisan ini pernah dikirimkan ke Kompas, pada 26 Juni 2005]

One Response to “| BANGSA (,) SAYA BINGUNG !

  1. FAJAR Says:

    full progres..ck..ck..

Leave a Reply