Archive for May, 2005

| INILAH PARA PEMIMPIN DI ACEH

Thursday, May 26th, 2005

Sekeping Langkah - CurrentAffair, Tahukah anda bahwa sejak zaman Belanda hingga sekarang era Kabinet Indonesia Bersatu aceh telah dipimpin oleh 46 petinggi. Dan selama kepemimpinan para petinggi tersebut pula Aceh berada dalam keadaan perang yang belum selesai sampai sekarang. Nama Petinggi Aceh sejak zaman Belanda hingga era Kabinet Indonesia Bersatu tersebut adalah :

  1. Mayor Jenderal J.L.J.H. Pel - Penguasa Militer (1874-1876)
  2. Mayor Jenderal G.B.F. Wiggers van Kerchem - Penguasa Militer (Maret 1876 - November 1876)
  3. Mayor Jenderal A.J.E. Diemont - Penguasa Militer (1876-1878)
  4. Letnan Jenderal K. van der Heijden - Gubernur Sipil/Militer (1878-1881)
  5. A. Pruis van der Hoeven - Gubernur Sipil (1881-1883)
  6. P.S. Laging Tobias - Gubernur Sipil (1883-1884)
  7. Mayor Jenderal M.Demmeni - Gubernur Sipil/Militer (1884-1886)
  8. Mayor Jenderal H.K.F. van Teijn - Gubernur Sipil/Militer (1886-1891)
  9. Kolonel Infanteri S. pompe van Meerdervort - Gubernur Sipil/Militer (1891-1892)
  10. Mayor Jenderal C. Djeirkhoff - Gubernur Sipil/Militer (1892-1896)
  11. Letnan Jenderal J.A Vetter - Pejabat Sementara Gubernur Sipil/Militer (April 1896-Juli 1896)
  12. Mayor Jenderal J.J.K. de Moulin - Gubernur Sipil/Militer (5 Juli 1896 -7 Juli 1896)
  13. Mayor Jenderal J.W. Stemfoort - Gubernur Sipil/Militer (Juli-Oktober 1896)
  14. Mayor Jenderal C.P.J van Vliet - Gubernur Sipil/Militer (1896-1898)
  15. Letnan Jenderal J.B. van Heutsz - Gubernur Sipil/Militer (1898-1904)
  16. Mayor Jenderal Jhr.J.C.van der Wijk - Gubernur Sipil/Militer (1904-1905)
  17. Mayor JenderalG.C.J. van Daalen - Gubernur Sipil/Militer (1905-1908)
  18. Mayor Jenderal H.N.A. Swart - Gubernur Sipil/Militer (1908-1918)
  19. M.A.G.H. van Sluys - Gubernur Sipil (1918-1923)
  20. A.M. Hens - Gubernur Sipil (1923-1925)
  21. O.M. Gedhart - Gubernur Sipil (1925-1929)
  22. A.H Philips - Gubernur Sipil (1930-1932)
  23. A.Ph. van Aken - Gubernur Sipil (1932-1936)
  24. J. Jongejans - Gubernur Sipil (1936-1938)
  25. J. Pauw - Gubernur Sipil (30 September1938-12 Maret 1942)
  26. S. Lino Syu Cokan (Maret 1942-Agustus 1945)
  27. Mayor Jenderal Teuku Nyak Arief - Residen (1945-1946)
  28. Teuku M. Ali Panglima Polem (Asisten Residen Menjabat Residen ketika Teuku Nyak Arief berhalangan atau sakit)
  29. Teuku Chik Muhammad Daudsyah - Residen (1946-1950)
  30. Mayor Jenderal Teungku Muhammad Daud Beureu’eh - Gubernur Militer Aceh Langkat Dan Tanah Karo (1947-1950)
  31. Mayor Jenderal Teungku Muhammad Daud Beureu’eh - Gubernur (1950-1951)
  32. R.M. Danubroto - Residen Koordinator (1951-1953)
  33. Teungku Sulaiman Daud - Wakil Residen Koordinator (Mei 1953-September 1953)
  34. Abdul Wahab - Ketua Staf Keamanan Pejabat Residen (1953-1954)
  35. Abdul Razak - Residen Koordinator (1954-1956)
  36. Ali Hasjmy - Gubernur(1957-1964)
  37. Brigadir Jenderal Nyak Adam Kamil (1964-1967)
  38. Kolonel Hasbi Wahidy - Pejabat Sementara Gubernur (1967-1968)
  39. Muzakir Walad – Gubernur (1968 - 1978)
  40. Prof. A. Madjid Ibrahim – Gubernur (1978-1981)
  41. M. Hasan Basry (Sekwilda Menjabat Gubernur ketika Prof. A.Madjid Ibrahim berhalangan/sakit)
  42. Mayor Jenderal H. Eddy Sabhara - Pejabat Sementara Gubernur (8 April-27 Agustus 1981)
  43. Teuku Hadi Thajeb – Gubernur (1981-1986)
  44. Prof. Dr. Ibrahim Hasan – Gubernur (1986-1993)
  45. Prof. Dr Syamsudim Mahmud – Gubernur (1993-1998) - carateker Ridwan Ramli ketika dikudeta oleh anggota dewan
  46. Abdullah Puteh (2000-2004) - pelaksana tugas Azwar Abubakar ketika Abdullah Puteh terkena kasus korupsi :)
  47. Drh. IRWANDI YUSUF (2007 - ….. ) - hasil pemilihan langsung, irwandi sendiri berasal dari eksponen GAM.

[Dari berbagai sumber dan risdok www.acehkita.com ]

| MENCARI ISTRI SEMPURNA

Tuesday, May 17th, 2005

Istri_yang_sempurna_copy Sekeping Langkah - Religion, Hamba mencari istri sempurna. Lelah hati dan jiwa. Hamba mencari kemana-mana, alhasil hamba tak sanggup temukan belahan jiwa itu. Setiap hari hamba berdoa, namun belum juga terkabul. Mungkin inilah perjuangan. Lama-lama hamba mulai menikmati kehidupan ini. Walaupun jemu pernah hinggap dalam kamus kehidupan hamba, meraung-raung dalam sunyi.

Sungguh, di dunia yang maya ini, hamba mencoba menghindar dari gundukan dosa, namun laron-laron dosa itu sesekali berduyun mendekati hamba. Sekuat ruh hamba berlari-berlari menuju cahaya, dan konon, salah satu kendaraan untuk mendekatkan diri dengan cahaya itu adalah mendapatkan seorang istri. Ya, hamba mencari istri sempurna, agar hamba bisa menyempurnakan niat hamba, bercengkrama dengan cahaya sejati. Hamba bergelut dengan hari-hari, mencari secercah cahaya untuk bisa hamba huni dari kegelapan yang semakin gandrung menyelimuti hati hamba lagi. Hamba akui di setiap arah jam yang bergulir ada terpendam berjuta rahasia yang tak bisa hamba singkap keberadaannya, tak mampu hamba kuliti satu persatu apa gerangan yang diinginkan Allah.

Tadinya hamba berpikir bahwa hamba telah mampu meredam satu niatan hamba itu, mengubur riak-riak kehidupan yang hamba bangun dengan pondasi rapuh. Rupanya detak suara jarum jam semakin besar menghentak-hentak dan memekakan telinga hamba, lalu hamba kembali terpuruk, pikiran hamba terhuyung-huyung melangkahkan kaki tak tentu arah.

Suatu hari, hamba bertemu dengan mawar. Di taman itu ia hidup sendiri. Warnanya yang merah merekah membuat mata terkagum-kagum. Ingin rasanya hamba mempersuntingnya, memetik segala hasrat yang mulai basah kuyup dengan segala keinginan.

Sang mawar tak sadar bahwa ada yang mengamatinya. Ya Tuhan harum sekali. Ya, ketika pagi merambat, hamba merasakan keharuman yang luar biasa. Merambat ke seluruh ubun-ubun, keharuman yang menakjubkan. Hamba memberanikan diri untuk menyapanya. "Selamat pagi, Mawar." Mawar tersenyum, senyum yang menyejukkan.

"Selamat pagi. Ada apakah gerangan, sehingga pagi-pagi begini anda bertamu ke taman yang sepi ini?" "Hamba berniat mencari istri yang sempurna. Setiap hari tanpa sepengetahuan anda, hamba mengamati anda, lalu tumbuhlah sejumput rasa tertentu yang tak bisa terdefinisi. Anda telah menyampaikan keharuman itu lewat wewangian yang disampaikan angin. Hamba pikir andalah yang hamba cari, belahan jiwa yang sekian lama memikat hamba untuk hidup dalam kembara." "Betulkah aku yang anda cari? Tak malukah anda menikah dengan bunga sederhana sepertiku? Apa yang membuat anda terkagum? Tak banyak yang bisa aku berikan untuk anda."

"Mawar, sudah lama hamba mencari istri yang sempurna. Mungkin inilah harapan terakhir. Melihat warnamu yang memerah, hamba terkesima. Jika anda mengizinkan, hamba ingin melamar anda. Mari kita arungi bahtera hidup ini."  "Kalau betul itu yang anda inginkan, baiklah. Tunggu barang satu minggu, setelah itu jenguklah aku kembali." "Terimakasih mawar. Ternyata hamba tak salah pilih. Seminggu lagi hamba akan kesini." Hamba lantas meninggalkannya sendiri di taman itu. Hamba pergi diiringi senyum yang dramatis. Hati hamba seketika terbang ke langit. Sebentar lagi penantian hamba berakhir, hamba akan mendapatkan istri yang sempurna. Seminggu berlalu, hamba mendatangi taman itu. Langkah kaki bersijingkat dengan sempurna, cepat dan gemulai. Ketika hamba tiba di tempat itu, tiba-tiba hati hamba melepuh, berterbanganlah harapan yang sempat mewarnai relung hati yang basah dengan tinta penantian. Mawar yang akan hamba persunting, yang akan hamba petik ternyata tak lagi berada di tangkainya. Ia telah luruh ke tanah merah, beserakan tak karuan, tak jelas lagi juntrungannya. Hamba tak habis mengerti, mengapa semua ini harus terjadi? Warna yang tadinya memerah, kini berubah kecoklat-coklatan, menjadi keriput, tak sesegar seperti minggu kemarin. Hamba menghampirinya, duduk termenung seperti seorang bocah yang merengek meminta mainan yang telah rusak. Dengan terbata-bata hamba berusaha menyusun kata-kata, menuai kalimat-kalimat. Namun mulut hamba teramat kelu, tak bisa lagi dengan sporadis menelurkan deretan huruf.

"Selamat pagi. Masihkah ada keinginan untuk menikah dengan ketidaksempurnaanku? Inilah aku, sang mawar yang sempat membuatmu terkagum. Mengapa wajah anda tercengang dan seolah tak memahami hakikat hidup?"

"Mengapa anda menjadi seperti ini? Apakah gerangan yang salah?"  "Tak ada yang patut disalahkan. Ini adalah siklus kehidupan. Hamba hanya bisa bertabah menghadapi takdir yang membelenggu. Ini jalan yang harus hamba jalani."  "Tapi hamba mencari istri yang sempurna, Mawar."  "Jika demikian, aku bukanlah belahan jiwamu."  Hamba beranjak dari tempat itu. Kekecewaan menghantui setiap langkah yang hamba bangun. Air mata menderas. Mawar yang sempat mencengkram jiwa, kini hanya onggokan ketakutan yang tak pernah hamba mimpikan sebelumnya.

***

Kini hamba berjalan lagi menyusuri waktu, mencari istri yang sempurna. Di tengah perjalanan, hamba melihat merpati yang terbang, menari di udara. Sayap-sayapnya ia sombongkan ke seluruh penjuru alam. Sungguh cantik ia, membuat cemburu para petualang. Lagi-lagi terbersit sebuah keinginan. Keinginan klasik: Inilah istri yang sempurna, semoga hamba bisa mendapatkannya. Merpati itu hinggap di ranting pohonan. Hamba memberanikan diri untuk memulai percakapan.

"Wahai merpati, tadi hamba melihatmu bercengkrama dengan angin. Bulu putihmu yang kudus, menjadikan harapan dalam batin kembali tumbuh."  "Apa yang hendak anda inginkan?"  "Hamba mencari istri yang sempurna. Andalah yang hamba cari." "Betulkah aku yang anda cari?" "Ya tentu. Hamba ingin anda terbang bersama hamba, membangun sebuah keindahan, mengarungi bahtera kehidupan."  "Jika demikian, silahkan tangkap aku. Apabila anda berhasil menangkap diriku, aku berani menjadi belahan jiwa anda. Aku akan belajar menjadi apa yang anda inginkan."  "Tapi bagaimana mungkin hamba bisa menangkap anda? Anda mempunyai dua sayap yang indah dan memesona, sedangkan hamba hanya manusia yang bisa menerbangkan imajinasi saja, selebihnya hamba adalah pemimpi yang takut dengan kehidupan."  "Segala sesuatu mungkin saja terjadi, asalkan ada maksud yang jelas dan lurus. Lebih baik anda pikirkan kembali niatan anda itu. Betulkah aku pasangan yang anda cari? Maaf, hamba aku bercengkrama dulu dengan angin, sampai jumpa."

Hamba tak bisa berkata banyak, merpati telah terbang bersama angin. Angin, oh…rupanya kekasih sejati merpati adalah angin. Hamba tak mau merusak takdir mereka. Bagaimana kata dunia kalau hamba dengan paksa menikahi sang merpati? Dunia akan mencemooh hamba sebagai manusia paling bodoh yang pernah dilahirkan. Tapi kemanakah lagi hamba harus mencari pasangan jiwa?

***

Itulah kabar hamba dulu. Meniti berbagai penderitaan untuk menyempurnakan segala beban yang melingkar di dasar palung jiwa hamba. Itulah gelagat hamba dulu, seperti seorang pecinta yang berkelana tak jelas arah dan tujuan, menghujani kulit lepuh para bidadari, menjadikan mereka gundah, berenang di atas lautan hampa. Begitu juga hamba. Ya, kabar hamba dulu! Memekik cinta yang bergemuruh, membadai, bercengkrama, meraja, bersengketa, meracau seperti burung kondor yang rindu bangkai-bangkai kematian. Dulu hamba tersesat dalam labirin sunyi tanpa nama. Hamba nyaris seperti mayat yang bergentayangan di siang hari, diperbudak angan-angan, bertubi-tubi mulut hamba memukul angin.

Sampai suatu malam, ketika keheningan mengambang di udara, berderinglah sebuah telepon selular yang teronggok di atas sajadah harapan. Kala itu hamba tidur lelap, mencipta mimpi yang samar. Hamba dibangunkan oleh gemuruh suara ring tone. Anehnya, suara selular itu tidak lagi menggelayutkan melodi seperti biasanya. Suaranya aneh tapi nikmat dan menyejukkan. Kalau tidak salah seperti ini: Allahuakbar….Allahuakbar…Allahuakbar… Kontan saja hamba terhenyak dan sempat kaget. Hamba mencoba memicingkan mata yang berat seperti terbebani satu ton serbuk besi. Di dinding kamar hamba melihat detak jam yang mengarah pada nomor tiga. Masih sepertiga malam. Siapa gerangan yang berani mengusik persemayaman indah ini? Lalu hamba mulai merunut kata-kata.

"Halo, siapa anda? Mengapa membangunkan hamba? Biarkan hamba beristirah barang sejenak." Hening, tak ada jawaban. Hamba pikir, ini pasti gelagat orang jahil yang mencoba berimprovisasi. Tapi ketika hamba mau menutup telepon selular, hamba mendengar suara yang menggelegar. Bukan, suara ini bukan dari telepon selular, tapi dari segala penjuru mata angin. Keringat mulai menghujan, ketakutan bersalaman di batin, air mata tak bisa hamba bendung, dan rasa rindu mencengkram hamba dari belakang, rindu yang tak terdefinisi. Mungkinkah doa-doa hamba yang terdahulu akan terkabul? Siapakah gerangan yang bicara? Setelah bermilyar doa berjejalan di udara, hamba harap seuumpt cahaya itu yang bicara Ya, semoga bukan kepalsuan yang bicara. Suara itu makin keras terdengar. Suara itu berkata seperti ini.

"Betulkah kau mencari istri yang sempurna?" Dengan terbata-bata hamba bilang,
"Ya…ya..hamba mencari istri yang sempurna. Mampukah anda mengabulkan keinginan hamba yang belum terwujud ini?" Suara itu kembali berujar.  "Berbaringlah, lalu tutuplah matamu. Bukalah ketika suaraku tak terdengar lagi." Hamba ikuti keinginannya. Hamba tutup mata hamba, dan berbaringlah. Riangnya hati hamba, sebentar lagi hamba akan berjumpa dengan istri sempurna. Jodoh hamba akan hadir. Ah, suara itu hening. Hamba mulai memicingkan mata. Hamba lihat di sekeliling. Mengapa yang terlihat hanya gumpalan-gumpalan tanah yang kecoklatan? Mengapa begitu sejuk? Kemudian hamba melihat pakaian hamba. Putih! Semua serba putih. Bukankah ini kain kafan? Alam barzah, pikir hamba. Lalu hamba melihat sesosok tubuh datang menghampiri, begitu bercahaya, cantik rupawan.  "Siapa anda?"  "Hamba adalah amalan anda. Hamba tercipta dari anda, istri sempurna yang anda ciptakan sendiri.

Menikahlah dengan hamba, sambil menunggu semua manusia kembali ke alam sunyi ini."  Begitulah kabar hamba kali ini.

Ada lagi yang mau mencari istri sempurna?

[Kiriman dari Akh David, tulisan oleh Firman Venayaksa]

| BENARKAH ACEH DALAM SYARIAT ISLAM ?

Sunday, May 1st, 2005

Sekeping Langkah - Article, Berbicara
mengenai Nanggroe Aceh Darussalam, seakan tidak pernah
habis-habisnya, sejak 3 dasawarsa lalu Aceh seakan tidak pernah lepas
dari berbagai ketidakadilan dan kezaliman rezim yang memerintah di
NKRI. Baik itu di era Karno dengan Orde Lamanya, era Harto dengan
Orde Barunya, era Habibie dengan Orde Transisinya, era Gusdur dengan
Orde reformasi yang di lanjuti oleh Mega. And Now di Era
Susilo dengan Kabinet Indonesia Bersatu nya sepertinya siih
Aceh masih dalam mendung kelabu.

Tapi
itulah Aceh, daerah Modal yang menjadi salah satu daerah untuk
“menghidupi Indonesia”, dan biarlah dimensi waktu dan ruang yang
menentukan kemana arah Aceh akan bergerak di masa depannya. Ini bukan
sebuah sikap apatis bagi sekian banyak solusi yang ditawarkan oleh
banyak “pejabat dan penjahat” baik di Aceh maupun di Jakarta.
Inilah sikap optimis yang logis.

Hanya
satu yang bisa kita cermati di Aceh kini sesuai dengan UU no.
18
tahun 2001. UU pemberlakuan syariat islam ini lebih dikenal dengan UU
Otonomi Khusus sudah sekitar beberapa tahun lalu ditetapkan di Aceh,
dan bagaimana aplikasinya di lapangan, sepertinya sih jauh
panggang dari api, dan ini bisa dilihat dari laporan akhir tahun
pemerintah yang mengatakan hasil dari implementasi UU ini selalu
berada dibawah target.

Berbicara
masalah syariat juga secara otomatis berbicara mengenai bagaimana
kehidupan masyarakat yang berkesesuaian dengan pola-pola hidup ajaran
Islam yang berdasarkan Al-Quran dan Hadist. Dan memang Islam adalah
yang mayoritas  - kalau tidak ingin mengatakan semua – di NAD, tapi
apakah ajaran-ajaran Islam benar-benar merasuki jiwa seluruh bangsa
Aceh kini, sekali lagi sepertinya jauh panggang dari api.

Kita
lihat sekarang, dimana Aceh yang dikenal sebagai Nanggroe Serambi
Mekkah, menjadi Provinsi paling Korup di NKRI, tidak
tanggung-tanggung, yang menjadi sorotan berbagai tindak pidana
korupsi di NAD adalah pejabat-pejabat daerah tak terkecuali Gubernur
Abdullah Puteh yang seharusnya menjadi icon utama penegakan syariat
Islam di NAD. Ketua Komisi Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi (KPK) Taufiequrrachman Ruki mengatakan pihaknya
menemukan indikasi korupsi senilai Rp 2,7 triliun di Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD). Korupsi sebesar itu diduga berasal dari 68 proyek
yang dilakukan berbagai instansi dari tingkat dinas kabupaten hingga
departemen pusat, termasuk dilakukan jajaran TNI dan Polri di Aceh.
Apakah ini syariat islam ?

Bagaiman
kondisi anak muda Aceh sekarang? benar-benar dalam kondisi euforia
yang berlebihan, seiring makin kondusifnya keamanan terutama di pusat
kota Banda Aceh, semakin “aman” pula lah mereka melakukan
tindakan-tindakan yang memalukan.

Semua
juga paham bagaimana lokasi di seputaran Banda Aceh, seperti Pantai
Lampuuk, Blang Padang, Cafe Sepanjang DAS Lamnyong, Pinggiran Alue
Naga, dan berbagai tempat lainnya yang semakin menjamur menjadi
tempat bagi kawula muda Aceh untuk menjadikannya sebagai tempat
maksiat, tempat perzinahan. Astaghfirullah…ini bukan tanpa
bukti, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Nasrullah Jakfar
mengungkapkan, sejak tahun 2000-2002, remaja putri yang berkonsultasi
ke dokter praktek karena hamil di luar nikah menunjukkan grafik
meningkat

Pada
tahun 2000, tercatat 71 kasus gadis hamil sebelum nikah atau sudah
mengadakan hubungan layaknya suami istri. Angka itu meningkat jadi
129 kasus pada tahun 2001. Dan melonjak lagi menjadi 226 kasus pada
tahun 2002. "Saya perkirakan setiap tahun bisa meningkat lagi.
Ini ibarat gunung es, yang tidak melapor lebih banyak lagi,"
jelasnya mengutip data LSM Centra Muda Putroe Phang Perkumpulan
Keluarga Berencana Indonesia (CMPP-PKBI).

Nasrullah
menduga perilaku seks di luar nikah itu terkait dengan budaya
permisif di masyarakat semakin permisif. Tayangan televisi yang
mengairahkan dan semakin gampangnya memperoleh CD porno semakin
menyuburkan seks di luar nikah. Dan yang mengagetkan, imbuh Nasrullah
masih mengutip data CMPP-PKBI, gadis yang duluan hamil sebelum ke
penghulu, kebanyakan berasal dari keluarga menengah ke atas. "Benteng
keimanan adalah kunci untuk mempertahankan diri dari segala bisikan
iblis," ingatnya. Nah, benarkah Aceh dalam syariat Islam….?

Anda
kenal warung kopi Ce’ UK (baca : cek yuke), yang berada di
depan agak kekiri dari Mesjid Raya Baiturrahman dan di pojok Jembatan
Pante Pirak di Pusat kota Banda Aceh? Lihatlah, wareeh seakan
tidak pernah sepi dari peminat, tidak hanya mayoritas anak muda aceh
yang cangkruan disana, orang tua pun ada, seiring matahari
bersiap menuju tempat peraduannya, wareeh semakin ramai
dikunjungi, dan apa yang terjadi ketika Adzan Maghrib berkumandang
dari Mesjid Raya yang tak berapa jauh dari tempat tersebut, mereka
tetap saja melanjutkan aktifitasnya ditempat yang terkenal dengan
kopinya itu, seakan telinga mereka tertutup dari panggilan Allah SWT
untuk mendirikan shalat. Inikah Syariat Islam di Aceh….?

Ada
lagi hal yang menggambarkan Aceh kini dalam penerapan UU no 18 tahun
2004 tentang pemberlakuan syariat islam. Jilbab modis dan gaul yang
digunakan oleh remaja putri Aceh tidak lebih sebagai suatu bentuk
kemunafikan yang kerap ditunjukkan oleh artis-artis jakarta pada saat
bulan ramadhan, so… tak salah jika ada yang mengungkapkan
“ulèe tutöp, punggöng teupeuhah” terhadap
pola pakaian tersebut. Syariat Islamkah di Aceh…?

Yang
diatas hanyalah yang tampak secara kasat mata didepan kita, belum
lagi peredaran narkotika dan pelacuran yang memang kurang diekspos
dari berbagai media dikarenakan keamanan yang menyusahkan mereka
meliput di NAD. Sehingga, masyarakat di luar Aceh sampai saat ini
masih menganggap Aceh termasuk daerah yang islami yang minim
kerawanan tindak kejahatannya, karena pedoman mereka adalah media
massa baik elektronik maupun cetak. Lihatlah program-program semacam
Buser, Patroli, Sergap betapa sedikitnya NAD terlihat didalamnya,
paling juga aksi mafia ganja yang bermain di luar Aceh dan ini sudah
biasa. So.. jangan salahkan masyarakat diluar Aceh yang tidak paham
bagaimana Aceh kini, karena itulah yang mereka lihat.

Wahai
aneuk nanggroe di rantau! saatnya kita bertanya apakah acara-acara
seremonial yang sering kita lakukan semisal seminar, maulid nabi, dan
halal bi halal yang menghabiskan dana tidak sedikit bisa membawa aceh
kembali bermartabat? Tidak malukah anda ketika melakukan hal-hal yang
tidak sesuai syariat sedangkan anda seorang muslim dan berasal dari
Aceh? sudah saatnya kita merenung, bertanya pada diri kita sendiri,
aksi nyata apa yang bisa kita berikan kepada Aceh. Mulailah dari
sekarang, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah dari yang kecil,
sehingga nanti kita tanpa ragu-ragu akan menjawab : Ya, Aceh telah
menerapkan syariat Islam sesuai Al-Quran dan Hadist. Allahu Akbar..!!
wallahu ‘alam

[Tulisan ini pernah di muat di Bulettin IPPMA Malang, HAN Atjeh ed. 5, 15 Desember 2004]