| SEKALI LAGI, LETAKKAN SENJATA !
Sekeping Langkah - Article, Bencana
Gempa dan Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 lalu di belahan benua
Asia tidak terkecuali di daerah Nanggroe Aceh Darussalam telah
menghentakkan jantung tidak hanya penduduk indonesia, namun juga
penduduk internasioanal. Korban yang dievakuasi pun terus bertambah,
banyak orang yang kehilangan kerabatnya, banyak anak yang kehilangan
orang tuanya, bantuan dana, pangan, dan obat-obatan pun terus
mengalir dari pelosok negeri, relawan-relawan dalam dan luar negeri
pun terus silih berganti, sarana dan prasarana di negeri yang
terkenal dengan serambi mekkah telah luluh lantak bagai negeri tak
bertuan, aparatur pemerintah belum berfungsi, dan kota-kota di Aceh
kini telah sepi ditinggal mati oleh penduduknya, sebahagian yang
selamat ada yang mengungsi, namun ada juga yang tetap bertekad
mendiami tanah rencong.
Penghargaan
yang setinggi-tingginya patut kita berikan kepada pemerintahan di
bawah kepemimpinan Susilo Bambang Yudoyono, yang telah dengan itikad
baik memberikan perhatian yang serius selama 10 hari sejak bencana
ini berlangsung. Namun, jika melihat kondisi Aceh kini, tidak cukup
10 hari itu, butuh konsep yang menyeluruh bagaimana membangun Aceh ke
depan, konsep yang benar-benar dapat menyelesaikan Aceh dengan segala
permasalahan yang melingkarinya sekarang ini. Pengungsi yang ribuan,
perekonomian yang hancur, pendidikan anak-anak yang terbengkalai, dan
jangan lupa konflik politik dengan GAM.
Semua
juga sudah paham, Aceh sejak zaman kemerdekaan Indonesia, 1945
dahulu, senantiasa dirundung nasib yang menyesakkan dada. Perlawanan
Daud Beureuh pada masa DI/TII, munculnya GAM tahun 1976, operasi
jaring merah sepanjang tahun 1989 sampai tahun 1998, sampai darurat
militer dan darurat sipil sekarang ini menjadi catatan pahit anak
negeri yang telah menorehkan luka yang mendalam, yang telah
menewaskan ribuan orang.
Bencana
alam tsunami yang telah meminta korban puluhan ribu orang dan
meluluhlantakkan wilayah aceh kembali pada titik nol sudah selayaknya
menjadi momentum oleh semua pihak-pihak yang bertikai selama ini di
Aceh baik dari Pemerintah maupun Gam untuk kembali membangun dan
menciptakan Aceh yang damai. Perdamaian dan keadilan di Aceh
merupakan jawaban setelah bencana alam menggenapkan penderitaan
rakyat aceh.
Setelah
menyelesaikan pekerjaan jangka pendek penanganan darurat bencana
alam, agenda yang harus dikedepankan adalah menciptakan perdamaian
dan menyudahi konflik bersenjata di Aceh. Dalam kondisi titik nol,
dimana rakyat sudah tidak memiliki apa-apa lagi, sudah seharusnya
pemerintah tidak membiarkan mengambangnya penyelesaian Aceh.
Perdamaian mesti menjadi solusi, tahapan, maupun visi dalam membangun
Aceh ke depan.
Situasi
saat ini juga menjadi momentum bagi pemerintah untuk menyelesaikan
persoalan Aceh secara menyeluruh. Sudah saatnya pemerintah melibatkan
semua pihak di Aceh untuk bersama-sama membangun Aceh yang damai.
Pemerintah harus bisa, sekali lagi harus bisa merangkul semua
komponen masyarakat Aceh, baik itu GAM yang berada di Aceh maupun GAM
yang berada di luar negeri untuk duduk bersama memikirkan Aceh ke
depan, rakyat sudah muak dengan segala kondisi yang selalu menjadikan
rakyat korban.
Pemerintah
RI, sebagai pemerintahan yang sah di negara ini harus proaktif dalam
menyelesaikan Aceh berhubungan dengan perlawanan senjata yang
dilakukan GAM. Hasan Tiro dan petinggi GAM di luar negeri harus bisa
menjadi sparring partner pemerintah dalam menangani Aceh
kedepan. Duduk pada satu meja perundingan untuk merumuskan konsep
Aceh kedepan adalah solusi yang tepat.
Tsunami
harus bisa membuka pintu hati petinggi-petinggi NKRI dan GAM, buka
hati selebar-lebarnya, lihatlah rakyat yang terus menderita, apa yang
anda cari dengan perselisihan selama ini. Kemenangan terbesar dari
sebuah pertikaian adalah perdamaian yang berkeadilan. Letakkan
senjata sekarang juga.
Selayaknyalah,
semua petinggi-petinggi NKRI dan GAM menghilangkan ego dan gengsi
yang selama ini digenggam erat, mereka (petinggi NKRI dan GAM) harus
menampakkan keinginan yang kuat setelah ribuan rakyat menjadi korban,
mereka harus sadar tidak cukup hanya dengan gencatan senjata selama
penanganan darurat bencana ini yang diperlukan, tetapi gencatan
selama-lamanya, mari bersama membangun Aceh masa depan yang damai
dengan berlandaskan nurani. Sekali lagi, letakkan senjata.
Semua
Ada Hikmahnya
Tsunami
seolah menjadi titik puncak dari segala luka pilu yang dialami bangsa
Aceh, sebuah isyarat yang diberi oleh Tuhan, semoga semua kita bisa
mengambil hikmah dan bisa membaca tanda-tanda itu. Bukan mustahil
jika kita gagal membaca tanda-tanda yang telah diberikan oleh tuhan
tersebut, tsunami-tsunami lainnya akan segera menyusul.
Tsunami
seolah menjadi jawaban dari tuhan terhadap pertikaian yang selama ini
terjadi sesama anak negeri. Namun, tidak ada kata terlambat untuk
memulai, cukuplah bangsa Aceh yang menjadi korban. Cukup bangsa Aceh
yang menjadi syuhada, buah dari kemunafikan dan kerakusan segelintir
oknum di negeri ini.
Bersabarlah
saudaraku Aceh, Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai
(dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan)
yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
[Tulisan ini pernah dikirim ke rubrik Prokon Aktivis Jawapos, 05 Januari 2005]